![]() |
| sumber: |
NusantaraInsights Akhir-akhir ini kesegaran cincau telah hadir kembali di tengah-tengah masyarakat. Cincau kini hadir dengan satu format baru, yaitu cappucino cincau. Fenomena ini langsung disambut baik oleh masyarakat. Hal ini didukung dengan meluasnya jaringan waralaba cappucino cincau. Omzet mereka pun tidak bisa dibilang kecil. Hal ini mendorong saya untuk mencoba kembali membuat cincau, tepatnya cincau hijau. Cincau hijau ini saya buat dari daun cincau yang berada di pekarangan rumah. Menanam cincau tidaklah susah. Cukup sediakan media tanam dan media rambat karena cincau termasuk tanaman merambat.
Daun yang saya gunakan adalah daun cincau minyak (Stephania hernandifolia). Secara morfologis, daun cincau minyak lebih kecil daripada daun cincau hijau. Jenis ini termasuk suku Menispermaceae. Daunnya berbentuk bulat telur hingga segitiga, berwarna hijau dengan ujung runcing. Cincau dari tumbuhan ini berwarna hijau dengan aroma yang spesifik. Di Indonesia, ada sekitar empat macam cincau yang dikenal masyarakat. Tumbuhan pertama yang daunnya biasa digunakan untuk membuat cincau adalah Cyclea barbata. Jenis ini tersebar mulai dari Malaysia, Indonesia, Myanmar, Thailand hingga India. Cyclea barbata termasuk dalam suku Menispermaceae, tumbuhan merambat, daunnya berwarna hijau berbentuk bulat telur hingga segitiga. Ukuran daunnya 8-16 x 4-12 cm. Bunganya berwarna kuning kehijauan. Cincau dari Cyclea barbata dibuat dari esktrak daun segarnya dan bisa dilakukan menggunakan air yang tidak terlalu panas. Gel cincau dari Cyclea barbata berwarna hijau yang kemudian dikenal masyarakat sebagai cincau hijau. Tumbuhan penghasil cincau berikutnya adalah Mesona palustris. Selain di Indonesia dan Asia Tenggara, Mesona palustris juga tumbuh di China dan Taiwan. Mesona palustris termasuk dalam suku Lamiaceae, berupa perdu dengan batang berwarna coklat kehijauan. Bentuk daun bulat telur, lebih kecil dibanding Cyclea barbata, berwarna hijau tua. Bunganya berwarna keunguan. Berbeda dengan cincau dari Cyclea barbata, cincau dari Mesona palustris dibuat dari ekstrak daun yang dikeringkan terlebih dahulu. Gel cincau yang dihasilkan daun Mesona palustris berwarna hitam yang kemudian dikenal sebagai cincau hitam. Pembuatan cincau dari daun jenis ini biasanya direbus hingga matang dan ditambahkan tepung tapioka selama proses penjendalan. Jenis tumbuhan ketiga penghasil cincau adalah Premna oblongifolia. Jenis ini memiliki nama lokal cincau perdu dan termasuk suku Lamiaceae. Daunnya berwarna hijau tapi berbeda dengan dua jenis lainnya di atas, daun Premna oblongifolia berbentuk bulat memanjang dengan ujung meruncing. Cincau dari daun Premna oblongifolia dibuat dari ekstrak daun yang dilayukan terlebih dahulu. Gel cincau yang dihasilkan berwarna hijau seperti halnya cincau hijau dari daun Cyclea barbata. Tumbuhan keempat yang dimanfaatkan sebagai penghasil cincau adalah Stephania hernandifolia seperti yang telah saya jelaskan di atas. (sumber: Kompasiana).
![]() |
| sumber:http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/56993/BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka |
Proses membuat cincau tidak membutuhkan waktu yang lama. Pertama, saya pilih daun yang mempunyai kualitas bagus. Selama ini, saya belum pernah memakai takaran tertentu dalam menentukan banyaknya daun yang dipetik. Daun-daun tersebut dicuci sampai bersih sampai kotoran dan debu hilang. Kemudian daun direndam dengan air. Anda bisa menggunakan air panas maupun air biasa. Untuk mendapatkan hasil yang konsisten, alangkah baiknya jika Anda mempunyai takaran jumlah daun yang tepat untuk setiap liter air. Selanjutnya adalah proses yang membutuhkan paling banyak tenaga, yaitu memeras-meras daun untuk mendapatkan sari (gel) dari daun. Biasanya saya memotong/mencacah daun agar gel pada daun mudah untuk diperas. Langkah terakhir adalah saring air yang sudah bercampur gel dari daun dan simpan di lemari pendingin sampai air mengental.
Menikmati cincau pada siang hari akan membuat badan Anda terasa segar. Mengapa? Karena ternyata cincau berkhasiat sebagai pencegah panas dalam, mengobati diare serta gangguan lambung. Seperti di lansir di Kompasiana, komponen nutrien dalam selembar daun cincau cukup beraneka ragam. Dalam daun cincau hitam (Mesona palustris) misalnya, dalam 100 gram daunnya mengandung 122 kalori, 6 gram protein, 1 gram lemak dan 26 gram karbohidrat. Selain kandungan serat yang tinggi, berbagai mineral seperti Kalsium, Besi dan Fosfor juga ditemukan dalam jumlah bervariasi. Demikian juga dengan kandungan vitamin A, B dan C menjadikan cincau cukup baik sebagai bahan pangan alternatif sekaligus pelengkap.
Daun cincau juga mengandung berbagai komponen polisakarida seperti pektin. Secara alami pektin dijumpai sebagai komponen dinding sel khususnya sebagai perekat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan pektin pada daun cincau seperti cincau hijau berpotensi sebagai antikanker. Sejumlah metabolit sekunder dari golongan flavonoid dan fenol juga sudah banyak diidentifikasi dari daun cincau. Keberadaan senyawa flavonoid dan fenol menjadikan cincau memiliki khasiat sebagai antioksidan.
Jadi, tidak ada salahnya jika Anda juga mencoba untuk membuat cincau sendiri. Rasakan kenikmatan dan kesegaran aslinya. Selamat mencoba!!!
Jadi, tidak ada salahnya jika Anda juga mencoba untuk membuat cincau sendiri. Rasakan kenikmatan dan kesegaran aslinya. Selamat mencoba!!!










